J
Sejak kemarin kemarin, beranda FYP Tiktok saya ramai lagi. Kali ini bukan soal pajak, bukan juga soal jalan rusak. Tapi soal wacana: Pak Harto mau diberi gelar Pahlawan Nasional.
Wah, Banyak dong yang langsung bereaksi. Ada yang mendukung penuh, katanya beliau berjasa besar membangun bangsa (Bapak Pembangunan) , bikin ekonomi stabil, bikin Indonesia dikenal dunia. Tapi nggak sedikit juga yang menolak mentah-mentah. Katanya, “masa sih pelanggar HAM mau dikasih gelar pahlawan?”
Ya, sebenernya, dua-duanya nggak salah sih. Tapi dua-duanya juga nggak sepenuhnya benar, kalau pandangan saya.
Kita ini sering banget menilai tokoh sejarah seperti menilai malaikat, harus suci, harus tanpa salah, harus seratus persen putih. Padahal sejarah nggak pernah seputih itu, lho. Setiap pemimpin besar, pasti meninggalkan jejak yang campur aduk, ada jasa, ada luka.
Ya Kalau mau adil, lihatlah semuanya. Pak harto memang punya catatan kelam, mulai dari pembungkaman politik, pembredelan pers, petrus, pelanggaran HAM, sampai korupsi yang tumbuh subur di masa Orde Baru. Ya Tapi di sisi lain, nggak bisa juga kita pura-pura lupa, bahwa beliau mewariskan stabilitas, infrastruktur, dan sistem pemerintahan yang banyak kita nikmati sampai sekarang.
Masalahnya, ketika orang menolak Pak Harto dengan alasan Beliau pernah salah, dibandingkan lah dengan presiden sebelumnya yang seolah sempurna tanpa noda, lupa bahwa Presiden sebelumnya juga manusia, punya salah juga. Kalau mau, dua-duanya sekalian nggak usah dikasih gelar pahlawan.
Presiden sebelumnya juga punya sisi gelap yang jarang diceritakan di buku sekolah. Betapa, presiden sebelum Pak Harto membiarkan PKI tumbuh besar di bawah bendera Nasakom, padahal ideologinya sudah jelas bertentangan dengan Pancasila. PKI waktu itu bukan sekadar partai biasa, tapi sudah masuk ke semua lini, pendidikan, militer, dan kebudayaan. Banyak pihak sudah memperingatkan, tapi presiden sebelum pak Harto tetap kukuh. Akhirnya, meledaklah tragedi 1965, dan bangsa ini pecah.
Belum lagi kebijakan ekonomi di akhir pemerintahannya. Inflasi sampai ribuan persen, rakyat susah makan, uang dicetak tanpa kontrol. Negara seolah hidup dari pidato ke pidato, tapi dapur rakyat banyak yang nggak ngebul.
Ia juga berseteru dengan sahabatnya sendiri, Bung Hatta, sampai-sampai Boeng Hatta jadi tahanan kota.
Tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir dan Tan Malaka pun hilang dalam kabut kekuasaan. Itu pembungkaman politik, kan? Otoriter juga, kan? Tapi apakah semua itu membuat Presiden sebelum pak Harto gagal jadi pahlawan? Nggak juga, kan?
Nah, di sini lah letak masalah kita: bangsa ini belum dewasa menghadapi sejarahnya sendiri. Kita masih pilih-pilih yang mau diingat. Kalau tokohnya kita suka, semua dosa dilupakan. Kalau tokohnya kita nggak suka, semua jasanya dihapus. 😂
Padahal, sejarah bukan soal suka atau nggak suka, lho. Ini soal kejujuran melihat manusia apa adanya. Pak Harto punya jasa dan salah. presiden sebelumnyajuga punya jasa dan salah. Keduanya sama-sama bagian dari perjalanan bangsa ini.
Toh, Pak Harto juga sudah tilar dunyo (Meninggal. Nggak ada gunanya lagi diadili. Tapi kalau masih ada orang-orang di lingkar kekuasaannya dulu yang belum mempertanggungjawabkan kesalahannya, ya ayo, tuntut yang masih hidup. Tapi jangan jadikan sejarah sebagai alat balas dendam.
Yang paling penting, generasi muda harus tahu kisahnya secara lengkap. Jangan hanya diceritakan yang bagus-bagusnya aja. Sejarah itu bukan tempat mencari sosok suci, tapi tempat belajar agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Jadi, kalau ditanya, saya setuju nggak Pak Harto dikasih gelar Pahlawan Nasional? Saya sih santai aja. Dikasih ya monggo, ndak dikasih juga nggak masalah.Asal satu hal saja, jangan lagi menulis sejarah dengan tinta sepihak.
Karena pahlawan sejati bukan yang tanpa dosa, tapi yang kisahnya membuat kita belajar — bahwa manusia bisa jatuh, tapi bangsa yang dewasa tahu caranya bangkit dengan jujur.
Tinggalkan Balasan